Senin, 04 April 2022

Kultur Sekolah

 Nama : Rio

Nim : 12001134

Kelas : 4G

Prodi : Pendidikan Agama Islam

Makul : Magang 1


Kultur Sekolah


Sebelum memasuki Kultur Sekolah, terlebih dahulu saya mengulas pengertian tentang Kultur. Istilah kultur ini berasal dari bahasa Inggris yang di sebut dengan Culture, yang di dalam bahasa sehari nya di senonimkan dengan istilah budaya. Kultur sendiri di kampus besar Bahasa Indonesia yang di artikan  sebagai Kebudayaan. Istilah budaya sendiri di dalam berbagai wacana, ada yang membedakan dan ada juga yang menyamakannya dengan Kebudayaan. Yang di katakan berbeda, karena Budaya berasal dari bahasa Sanskerta yaitu Buddhi, yang berarti budi atau akal yang berupa cipta, rasa dan karsa. Sedangkan Kebudayaan ialah sebuah hasil dari cipta, rasa dan karsa itu sendiri. Yang di katakan sama, sebab dari segi anthropologi budaya misalnya. Budaya itu merupakan singkatan dari Kebudayaan. Dengan demikian, kedua istilah tersebut memiliki arti yang sama. 

Menurut Zamroni beliau menyampaikan konsep kultur di dalam dunia pendidikan itu berasal dari kultur di dunia kerja industri. Yaitu situasi yang memberikan landasan atau arah untuk berjalannya suatu proses Industri. Berdasarkan konsep di atas dapat di jelaskan sebagai nilai, keyakinan, persepsi, sikap dan cara hidup yang berpola teratur dan ada kebiasaan untuk melakukan penyesuaian dengan lingkunagan, dan sebagai cara untuk memandang serta memecahkan permasalahan yang ada di sekolah-sekolah yang terbentuk sepanjang perjalanan sebuah sekolah. Sebagaimana yang telah di gambarkan pengertian di atas, Kultur Sekolah merupakan perangkat budaya yang terdiri dari sejumlah Norma-norma, nilai, ritual, dan mito, dan kebiasaan yang terbentuk sepanjang perjalanan Sekolah yang bersangkutan. Bentuk Kultur Sekolah secara intrinsik muncul sebagai sebuah fenomena yang unik dan menarik, karena pandangan, sikap serta perilaku yang hidup dan berkembang di sekolah pada dasarnya, mencerminkan, kepercayaan dan keyakinan yang mendalam dan khas bagi warga sekolah yang dapat berfungsi sebagai spirit yang mendukung dan membangun kinerja sekolah. 

Di sampaikan dalam buku Pedoman Pengembangan Kultur Sekolah, bahwa Kultur Sekolah ini memiliki dua lapisan. Lapisan pertama ini sebagiannya bisa di amati, dan sebagiannya lagi tidak. Bisa di amati. Lapisan yang bisa di amati sepertinya, Arsitektur, tata ruang, eksterior dan interior, kebiasaan dan rutinitas, dan peraturan-peraturan. Sedangkan lapisan yang tidak bisa di amati secara jelas dapat berintikan norma perilaku bersama warga suatu organisasi. Lapisan kedua Kultur Sekolah ini berupa nilai-nilai bersama yang di anut oleh kelompok yang berhubungan dengan apa yang penting, baik, dan yang benar. Lapisan kedua ini, semuanya tidak bisa di amati, oleh karena itu sangat berbeda dengan lapisan pertama sebagaimana yang telah saya jelaskan di atas.Lapisam kedua ini semuanya tidak bisa di amati karena terletak di dalam kehidupan bersama. Jika lapisan pertama sukar di ubah, maka lapisan ke dua yang berintikan nilai-nilai dan keyakinan sangat sukar di ubah dan memerlukan waktu untuk dia berubah.

Kinerja sekolah merupakan prestasi yg didapatkan berdasarkan proses atau  konduite sekolah, yg bisa dicermati berdasarkan produktivitas, efisiensi, inovasi, kualitas kehidupan kerja & moral kerjanya. Kinerja sekolah mencakup pula kinerja murid yaitu output belajar & atau konduite belajar, pada hal ini disiplin, motivasi, daya saing & daya kerja sama, kemampuan buat berprakarsa & memperhitungkan resiko dan perilaku pencapaian prestasi pada persaingan. Khusus berkenaan menggunakan hasil sekolah dijelaskan bahwa hasil sekolah bisa dikatakan berkualitas tinggi bila prestasi sekolah khususnya prestasi siswa menerangkan pencapaian yg tinggi pada hal: (1) output tes kemampuan akademik, berupa nilai ulangan umum, UAS, UAN; (2) prestasi pada bidang nonakademik, misalnya olah raga, seni, keterampilan.

Suyanto & Abbas mengemukakan, sekolah merupakan forum pendidikan yg selama ini kerap sebagai target pertanyaan warga  berkaitan menggunakan kinerja & produk kerjanya yg cenderung pada bawah baku mutu yg diharapkan. Hampir seluruh perkara yg menimpa generasi muda, dijadikan hujatan pada sekolah. Seakan-akan sekolahlah sentra berdasarkan segala malapetaka itu. Terlepas berdasarkan sahih atau salah, satu hal yg pasti, sekolah wajib  menyesuaikan diri menggunakan perubahan. Harus ditumbuhkan perubahan yg bisa membangun keberhasilan upaya-upaya menaikkan mutu pengelolaan & mutu output pembelajarannya. Strategi melaksanakan perubahan berikutnya sebagai sangat krusial bagi sekolah, lantaran sekolah adalah sebuah forum otonom. Maju mundurnya pendidikan yg dilaksanakan sang sekolah, nir lagi secara umum dikuasai dipengaruhi sang institusi yg membawahi sekolah, namun sang sejumlah komponen yg terdapat pada pada sistem persekolahan.

Kultur sekolah bisa memperbaiki kinerja murid manakala kualifikasi kultur sehat, solid, kuat, positif & profesional. Artinya kultur sekolah seyogyanya sebagai komitmen luas pada sekolah, sebagai jati diri & kepribadian sekolah, bahkan didukung sang stakeholder-nya. Dengan kultur sekolah yg demikian, suasana kekeluargaan, kolaborasi, semangat terus maju, dorongan bekarja keras & belajar-mengajar bisa diciptakan. 

Keberadaan murid pada proses belajar mengajar pada sekolah memiliki peranan yg nir mini   pada kelangsungan pendidikan pada sekolah. Pengajar bisa saja mengajar meskipun nir terdapat bangku, nir terdapat ruang kelas, nir terdapat kitab   & nir terdapat indera peraga. Tapi pengajar nir bisa mengajar tanpa terdapat murid yg terlibat, baik pribadi juga nir pribadi. Membangun aktivitas pedagogi & pendidikan pada sekolah nir saja berarti membentuk kinerja pengajar melainkan pula kinerja murid. Upaya-upaya menaikkan kinerja murid dalam proses pembelajaran dirinya sangatlah krusial, terutama lantaran dalam hakikatnya merekalah pemilik sekolah. Sekolah & segenap komponen lainnya disediakan buat membantu proses belajar murid.

Sementara itu pada perspektif kultur, Djohar menyatakan bahwa sekolah adalah loka mensosialisasikan nilai-nilai budaya, nir hanya terbatas dalam nilai-nilai keilmuan namun seluruh nilai-nilai kehidupan yg memungkinkan terwujudnya insan berbudaya. Manusia berbudaya bisa dievaluasi berdasarkan kinerjanya, dicermati berdasarkan dimensi pengetahuan, cara berpikir, perilaku, konduite, cara kerja, berdasarkan melihat & menanggapi dan memecahkan masalah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Perangkat Pembelajaran

 Nama : Rio Nim : 12001134 Kelas : 4G Prodi : Pendidikan Agama Islam  Makul : Magang 1 Perangkat pembelajaran merupakan suatu perencanaan ya...